Rabu, 26 Februari 2014

Elektronik Power Steering

Elektronik Power Stering ( EPS) perangkat yang membatu meringankan sistem kemudi. Elektronik Power Steering adalah pengembangan lanjutan dari sistem Hidrolik Power Steering. Kerja alat Elektronik Power Stering  pada awalnya menggunakan semi elektronik, di mana motor elektronik masih memutar pompa hidrolik. Seiring berkembangnya teknologi motor elekronik sudah lansung memutar rack.


   keuntungan menggunakan EPS


  • Pada saat mobil dalam keadaan stationer dan berjalan lambat putaran kemudi ringan.
  • Pada saat melaju kencang putaran kemudi akan di beratkan agar mobil tetap stabil 
  • Pada kecepatan sedang dan cepat, stering effort akan bertambah untuk menambahjan kestabilan dan kenyamanan kemudi
  • Ketika kendaraan melewati jalan yang rusak pada kecepatan sedang dan cepat, meskipun ada rintangan besar dari permukaan jalan, namun tidak akan mempengaruhi arah control kemudi, karena tekanan ouput hydraulic untuk steering effort menjadi tinggi sama seperti power steering konvensional.
  •  Sistem ini mempunyai fungsi fail-safe sehingga meskipun sistemnya elektrikal, temasuk control unit dan sensors, namun karakteristik power steering normal masih bisa di dapat.

2.      
 Prinsip kerja Elektronik Power Steering ( EPS ) hampir sama dengan Hidrolik Power Steering tapi, pada EPS  tidak menggunaka pompa power string lagi sehinga tidak membebani mesin. Dengan di gantikannya pompa hidrolik dengan motor elektronik maka beban mesin berkurang sehingga putran mesin menjadi lebih enteng dan akan membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih hemat.
 EPS berkerja dengan mengunakan sensor dari ecu. Nantinya, ECU ini yang akan berkordinasi dengan ECU utama mobil untuk mengambil data kecepatan dan lainnya.
Gunanya demi keamanan. Maksudnya, dalam kecepatan rendah setir harus dibuat seringan mungkin, sedangkan kecepatan tinggi justru dibuat lebih berat agar kemudi tak mudah berubah arah. Alhasil, energi listrik yang dibutuhkan EPS justru ada di putaran mesin rendah.
Cara kerjanya, torque sensor yang ada di kolom setir akan membaca putaran setir yang dilakukan pengemudi, lalu mengubahnya menjadi sinyal listrik. Lantas ECU akan memerintahkan sinyal ini untuk menggerakan motor listrik, menggunakan arus DC.
Nantinya, akan ada perangkat reduction mechanism yang akan mengurangi kecepatan motor listrik melalui penggunaan worm gear dan wheel gear, untuk memberikan respon kembali pada setir.
Motor listrik ini punya trafo sendiri untuk membangkitkan listrik yang dibutuhkan. Kalau tegangan aki hanya sebesar 12 volt, maka motor listrik EPS bisa hingga 14 volt, dalam posisi bekerja penuh.
Nah, perintah utamanya hanya dari gerakan setir. Jadi, ketika setir berada dalam posisi lurus. Pastinya torque sensor tak akan membaca beban yang harus dikeluarkan. Motor listrik pun berhenti bekerja.